Minggu, 15 Desember 2013
Senin, 09 Desember 2013
Pendidikan Luar Sekolah
01.50
No comments
Pada dasarnya, pendidikan luar sekolah atau pendidikan nonformal merupakan pendidikan yang terlebih dahulu lahir daripada
pendidikan formal. Hal tersebut dapat terjadi mengingat sejalan dengan
meningkatnya jumlah umat manusia di bumi ini, baik disadari maupun tidak akan
kemudian sebuah kelompok – kelompok kecil sampai besar yang kemudian didalamnya
terjadi interaksi yang dimana proses pendidikan disitu nantinya akan terlahir.
Pendidikan nonformal timbul dari konsep pendidikan seumur hidup yang dimana
bahwa proses pendidikan merupakan suatu proses continue yang bermula sejak
seseorang dilahirkan hingga meninggal dunia. Sehubungan dengan hal tersebut
untuk itulah kenapa pendidikan nonformal mempunyai karakteristik yang sangat
berbeda apabila kita bandingkan dengan pendidikan formal yang sering kita temui
dan alami pada masa – masa sekolah.
Menurut Coombs dalam Sudjana (2004), pendidikan
luar sekolah ialah setiap kegiatan terorganisasi dan sistematis, di luar sistem
persekolahan yang mapan, dilakukan secara mandiri atau merupakan bagian penting
dari kegiatan yang lebih luas, yang sengaja dilakukan untuk melayani peserta
didik tertentu di dalam mencapai tujuan belajarnya. Menurut Philips H. Combs
mengungkapkan bahwa pendidikan luar sekolah adalah setiap kegiatan pendidikan
yang terorganisir yang diselenggarakan diluar sistem formal baik tersendiri
maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan yang luas, yang dimaksudkan untuk
memberikan layanan kepada sasaran didik terentu dalam rangka mencapai tujuan –
tujuan belajar. Seain itu, Menurut Soelaiman Joesoef dan Slamet Santoso
pendidikan luar sekolah adalah setiap kesempatan di mana terdapat komunikasi
yang teratur dan terarah di luar sekolah dan seseorang memperoleh informasi,
pengetahuan, latihan maupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan
kehidupan, dengan tujuan mengembangkan tingkat keterampilan, sikap dan
nilai-nilai yang memungkinkan baginya menjadi peserta-peserta yang efisien dan
efektif dalam lingkungankeluarga, pekerjaan bahkan lingkungan masyarakat dan
negaranya.
Dari beberapa paparan para pakar tersebut apabila
kita tarik sebuah benang merah maka, pendidikan luar sekolah sejatinya
merupakan sebuah pendidikan yang dirancang untuk membelajarkan warga belajar
agar mempunyai jenis keterampilan dan atau pengetahuan serta pengalaman yang
dilaksanakan di luar jalur pendidikan formal.
Minggu, 08 Desember 2013
Evaluasi PLS
00.53
1 comment
Evaluasi merupakan salah satu rangkaian manajemen
dalam hal meningkatkan kualitas, kinerja, atau produktifitas suatu lembaga
dalam melaksanakan programnya. Evaluasi secara singkat juga dapat didefinisikan
sebagai proses mengumpulkan informasi untuk mengetahui pencapaian belajar kelas
atau kelompok. Hasil evaluasi diharapkan mampu memperbaiki sekaigus
meningkatkan proses manajemen yang telah berjalan. Jadi, nantinya evaluasi
memberikan informasi bagi para perancang program untuk memutuskan kebijakan apa
selanjutnya yang harus diambil.
Mehrens & Lelman (1978) Evaluasi
adalah suatu proses dalam merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi
yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif - alternatif keputusan.
Evaluasi
menurut Griffin & Nix (1991) adalah judgment terhadap
nilai atau implikasi dari hasil pengukuran. Menurut definisi ini selalu
didahului dengan kegiatan pengukuran dan penilaian. Menurut Tyler (1950),
evaluasi adalah proses penentuan sejauh mana tujuan pendidikan telah tercapai.
Masih banyak lagi definisi tentang evaluasi, namun semuanya selalu memuat masalah
informasi dan kebijakan, yaitu informasi tentang pelaksanaan dan keberhasilan
suatu program yang selanjutnya digunakan untuk menentukan kebijakan berikutnya.
Berangkat
dari paparan tersebut dapat kemudian kita tarik kesimpuan bahwasanya evaluasi
pendidikan luar sekolah adalah proses pengambilan informasi tentang pelaksanaan
suatu program pendidikan uar sekolah mulai dari perancangan, pengorganisasian,
pergerakan, hingga pembinaan. Pada titik ini proses evaluasi atau penilaian
akan juga kemudian menentukan pada proses pengembangan sehingga nantinya kesuksesan dalam proses evaluasi ini juga akan
berdampak kepada kesuksesan proses pengembangan dari sebuah program dalam hal
ini adalah program pendidikan luar sekolah.
Jumat, 06 Desember 2013
Life Skills
12.32
1 comment
Meskipun terdapat perbedaan dalam pengertian kecakapan hidup, namun esensinya sama yaitu bahwa kecakapan hidup adalah kemampuan, kesanggupan, dan keterampilan yang diperlukan oleh seseorang untuk menjalankan kehidupan dengan nikmat dan bahagia. Oleh karena itu, pendidikan kecakapan hidup adalah, pendidikan yang member bekal dasar dan latihan yang dilakukan secara benar kepada peserta didik tentang nilai-nilai kehidupan sehari-hari agar yang bersangkutan mampu, sanggup, dan terampil menjalankan kehidupannya, yaitu dapat menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya. Dengan definisi tersebut, maka pendidikan kecakapan hidup harus merefleksikan nilai-nilai kehidupan nyata sehari-hari, baik yang bersifat preservative maupun progresif. Pendidikan perlu diupayakan relevansinya dengan nilai-nilai kehidupan nyata sehari-hari. Dengan cara ini, pendidikan akan lebih realistis, lebih kontekstual. Tidak akan mencabut peserta didik dari akarnya, sehingga pendidikan akan lebih bermakna bagi peserta didik dan akan tumbuh subur. Seseorang dikatakan memiliki kecakapan hidup apabila yang bersangkutan mampu, sanggup, dan terampil menjalankan kehidupan dengan nikmat dan bahagia. Kehidupan yang dimaksud meliputi kehidupan pribadi, kehidupan keluarga, kehidupan tetangga, kehidupan perusahaan, kehidupan masyarakat, kehidupan bangsa, dan kehidupan-kehidupan lainnya. Ciri kehidupan adalah perubahan dan perubahan selalu menuntut kecakapan-kecakapan untuk menghadapinya. Oleh karena itu, sudah sewajarnya jikpa PS dan PLS mengajarkan kecakapan hidup.
Seperti juga ada pengertian kecakapan hidup, tujuan pendidikan kecakapan hidup juga bervariasi sesuai kepentingan yang akan dipenuhi. Naval Air Station Antlanta (2002) menuliskan bahwa tujuan pendidikan kecakapan hidup adalah: to promote family strength and growth through education; to teach concepts and principles relevant to family living, to explore personal. attitudes and values, and help members understand and accept the attitudes and values of others; to develop interpersonal skills which contribute to family well-being; to reduce mariage and family conflict and theeby enhance service member productivity; and to encourage on-base delivery of family education program and referral as appropriate to community programs.”i appropriate to community programs. Sementara itu, Tim Broad-Based Education Depdiknas (2002) mengemukakan bahwa tujuan pendidikan kecakapan hidup adalah untuk: (1) mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat digunakan untuk memecahkan problema yang dihadapi, (2) memberikan kesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel, sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luas, dan (3) mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lingkungan sekolah, dengan member peluang pemanfaatan sumber daya yang ada di masyaakat, sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah.
Meskipun bervariasi dalam menyatakan tujuan pendidikan kecakapan hidup, namun konvergensinya cukup jelas yaitu bahwa tujuan utama pendidikan kecakapan hidup adalah menyiapkan peserta didik agar yang bersangkutan mampu, sanggup, dan terampil menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya di masa datang. Esensi dari pendidikan kecakapan hidup adalah untuk meningkatkan relevansi pendidikan dengan nilai-nilai kehidupan nyata, baik preservatif maupun progresif. Lebih spesifiknya, tujuan pendidikan kecakapan hidup dapat dikemukakan sebagai berikut.
Pertama, memberdayakan aset kualitas batiniyah, sikap, dan perbuatan lahiriyah peserta didik melalui pengenalan (logos), penghayatan (etos), dan pengamalan (patos) nilai-nilai kehidupan sehari-hari sehingga dapat digunakan untuk menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya.
Kedua, memberikan wawasan yang luas tentang pengembangan karir, yang dimulai dari pengenalan diri, eksplorasi karir; orientasi karir, dan penyiapan karir. Ketiga, memberikan bekal dasar dan latihan-latihan yang dilakukan secara benar mengenai nilai-nilai kehidupan sehari-hari yang dapat memampukan peserta didik untuk berfungsi menghadapi kehidupan masa depan yang sarat kompetisi dan kolaborasi sekaligus. Keempat, mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya sekolah melalui pendekatan manajemen berbasis sekolah dengan mendorong peningkatan kemandirian sekolah, partisipasi stakeholders, dan fleksibilitas pengelolaan sumber daya sekolah. Kelima, memfasilitasi peserta didik dalam memecahkan permasalahan kehidupan yang dihadapi sehari-hari, misalnya kesehatan mental dan pisik, kemiskinan, kriminal, pengangguran, lingkungan sosial dan pisik, narkoba, kekerasan, dan kemajuan iptek.
Hasil yang diharapkan dari pendidikan kecakapan hidup pada PS dan PLS adalah sebagai berikut. Pertama, peserta didik memiliki asset kualitas batiniyah, sikap,dan perbuatan lahiriyah yang siap untuk menghadapi kehidupan masa depan sehingga yang bersangkutan mampu dan sanggup menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya. Kedua, peserta didik memiliki wawasan luas tentang pengembangan. Karir dalam dunia kerja yang sarat perubahan yaitu yang mampu memilih, memasuki, bersaing, dan maju dalam karir. Ketiga, peserta didik memiliki kemampuan berlatih untuk hidup dengan cara yang benar, yang memungkinan peserta didik berlatih tanpa bimbingan lagi. Keempat, peserta didik memiliki tingkat kemandirian, keterbukaan, kerjasama, dan akuntabilitas yang diperlukan untuk menjaga kelangsungan hidup dan perkembangannya. Kelima, peserta didik memiliki kemampuan dan kesanggupan untuk mengatasi berbagai permasalahan hidup yang dihadapi.
Pendidikan kecakapan hidup memberikan manfaat pribadi peserta didik dan manfaat sosial bagi masyarakat. Bagi peserta didik, pendidikan kecakapan hidup dapat meningkatkan kualitas berpikir, k ualitas kalbu, dan kualitas fisik. Peningkatan kualitas tersebut pada gilirannya akan dapat meningkatkan pilihan-pilihan dalam kehidupan individu, misalnya karir, penghasilan, pengaruh, prestise, kesehatan jasmani dan rohani, peluang, pengembangan diri, kemampuan kompetitif, dan kesejahteraan pribadi. Bagi masyarakat, pendidikan kecakapan hidup dapat meningkatkan kehidupan yang maju dan madani dengan indikator-indikator adanya: peningkatan kesejahteraan sosial, pengurangan perilaku destruksif sehingga dapat mereduksi masalah-masalah sosial, dan pengembangan masyarakat yang secara harmonis mampun memadukan nilai-nilai religi, teori, solidaritas, ekonomi, kuasa dan seni (cita rasa).
Pustaka
Brolin, D.E. 1989. Life Centered Career Education: A Competency Based Approach. Reston, VA: The Council for Exceptional Children.
Depdiknas. 2002. Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup (Life Skill) Melalui Pendekatan Broad-Besed Education (Draft). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. 1989. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.
GNVQ. 1993. Core Skills. London: The Office of General National Vocational Qualification.
Malik Fadjar. 2001. Laporan Menteri Pendidikan Nasional pada Rapat Koordinasi Bidang Kesra Tingkat Menteri. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Malik Fadjar. 2002. Paparan Seputar Langkah-langkah Menuju Tercapainya Sasaran Pembangunan Pendidikon (Disampaikan dalam Sidang Kabinet). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
MPR. 1998. Garis-garis Besar Haluan Negara. Jakarta: Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia.
Naval Air Station Atlanta. 2002. Life Skills Education and Support. http//www.nasatlanta.navy. Mil/life.html.
Slamet PH. 1997. Perlunya Kebijakan Sumber Daya Manusia yang Utuh (Jurnal Pendidikan Teknologi dan Kejuruan). Jogjakarta: Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan.
Slamet PH. 2002. Pendidikan Kecakapan Hidup di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama: Konsep dan Pelaksanaan. Jakarta. Direktorat Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama.
The National Training Board. 1992. National Competency Standard: Policy and Guidelines. Canberra: The Office of NTB.
US Department of Labor. 1992. Learning a Living: A Blueprint for High Performance. Washington DC.: US Department of Labor.
________.2002. The Life Skills Education Proiect. http://www. whomas.org.it/text2/life skills.html
________.2002. Life Skills Foundation. http://www.lifeskills-stl.org/page2.html
________.2002. Life Skills for Vocational Success. http://www. workshopsinc.com/manual/
Penulis
Slamet PH, MA, MEd, MLHR, Ph.D
Rabu, 04 Desember 2013
Kursus menerbangkan besi "Deraya Flying School"
12.12
No comments
Disini anda akan mempelajari berbagai keterampilan khusus yang
dibutuhkan untuk menjadi seorang Pilot yang profesional dalam waktu
relatif singkat. Anda akan mendapatkan program latihan lengkap dengan
Instruktur yang berpengalaman, tempat latihan yang mudah dijangkau serta
biaya yang dapat diangsur.
Materi pendidikan yang akan Anda peroleh meliputi empat tahap yaitu:
Materi pendidikan yang akan Anda peroleh meliputi empat tahap yaitu:
- Student Pilot License (SPL)
- Aptitude Test
- PPL (Private Pilot License)
- CPL + IR (Commercial Pilot License + Instrument Rating)
Selain keempat tahap tersebut, Deraya Flying School atau DFS menyediakan paket pendidikan
khusus bagi Anda yang membutuhkan sertifikasi tambahan ME (Multi Engine)
+ IR (Instrument Rating). Paket tersebut dapat diperoleh berdasarkan
permintaan khusus. Dalam pelaksanaan pendidikan dan pelatihan,
DFS telah dilengkapi beragam sarana dan prasarana sesuai dengan
peraturan serta ketentuan nasional dan internasional terkait standar
pendidikan bagi calon Pilot. Untuk mencapai suatu hasil pembelajaran
yang maksimal dalam kurun waktu relatif singkat, armada terbang DFS terdiri dari 2 unit pesawat latih Cessna 150 serta 5 unit Cessna 172 yang selalu siap tersedia untuk latihan penerbangan.
DFS juga memiliki dua ruang kelas yang nyaman dan telah dilengkapi
dengan berbagai fasilitas yang lengkap sehingga tercipta proses
belajar-mengajar yang kondusif serta maksimal antara Instruktur dan para
calon Pilot DFS. Dengan demikian semua materi pendidikan dapat
tersampaikan dan terserap dengan baik.
DFS juga melengkapi
fasilitasnya dengan satu unit simulator Frasca 142 yang didatangkan dari
Amerika. Dengan keberadaan simulator ini proses pembelajaran terbang
pun menjadi lebih maksimal dan terintegrasi. Bekerja sama dengan
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara, DFS telah menambah jumlah
area training, yaitu di Lapangan Udara Adisumarmo, Solo. Dengan dukungan
kelengkapan fasilitasnya serta jumlah training area yang mencukupi,
maka Lapangan Udara Adisumarmo ini merupakan sebuah lokasi yang ideal
dalam melaksanakan latihan terbang. DFS didukung penuh oleh Tim Teknik & Maintenance PT Deraya. Dengan
profesionalisme serta pengalaman kerja puluhan tahun, Tim Maintenance PT
Deraya bekerja secara profesional dengan standarisasi keselamatan yang
tinggi. Dalam pelaksanaannya DFS memang berkomitmen untuk selalu menjaga
kualitas serta keamanan selama program pendidikan berlangsung.
DFS juga menjamin bahwa Anda akan memperoleh sepenuhnya 160 JAM
TERBANG selama masa pendidikan yang akan meningkatkan kualitas kemampuan
terbang Anda. Usai masa pendidikan tersebut maka Anda sudah siap
bertugas sebagai First Officer (Co-Pilot) di berbagai maskapai
penerbangan.
Dengan pengalaman selama 38 tahun, program pelatihan yang
terstruktur, fasilitas yang lengkap, instruktur yang berpengalaman,
serta ditunjang oleh Tim Maintenance yang kompeten di bidangnya, DFS
telah berhasil menempatkan dirinya dalam jajaran sekolah penerbangan
terbaik di Indonesia. DFS juga memberikan layanan bagi Anda yang
sudah memperoleh license (ijin terbang) asing untuk dialihkan ke
license Indonesia atau biasa disebut dengan endorse. Selain
program pelatihan penerbangan DFS juga melayani Anda yang berminat untuk
tetap menjaga (maintain) Rating, atau sekedar menyalurkan hobi terbang
Anda maupun Joy Flight.
Selasa, 03 Desember 2013
Manajemen Pendidikan Luar Sekolah
01.00
No comments
Manajemen berasal dari bahasa Prancis kuno ménagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Karenanya, manajemen dapat diartikan sebagai ilmu dan seni tentang upaya untuk memanfaatkan semua sumber daya yang dimiliki untuk mencapai tujuan secara efektif dan efesien. Menurut Ricky W. Griffin, Manajemen sebagai sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal. Drs. Oey Liang Lee juga menambahakan bahwasanya manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan daripada sumberdaya manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Jika proses tersebut dilakukan dalam bidang pendidikan luar sekolah dan untuk mencapai tujuan – tujuan pendidikan luar sekolah maka disebut sebagai manajemen pendidikan luar sekolah. Sehingga dapat kita kita tarik kesimpulan bersama bahwasanya manajemen pendidikan luar sekolah/PLS adalah merupakan serangkaian kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, menggerakkan, mengendalikan dan mengembangkan terhadap segala upaya dalam mengatur dan mendayagunakan sumber daya manusia, sarana dan prasarana secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan daripada penyelenggaraan program pendidikan luar sekolah yang telah ditetapkan.
Adapun fungsi – fungsi daripada manajemen pendidikan luar sekolah sendiri terdiri dari berbagai versi yang berbeda oleh para pakar. Sehinggga jika dapat tarik benang merahnya, fungsi – fungsi manajemen pendidikan luar sekolah meliputi :
1. Perencanaan
Perencaanan bertujuan untuk merancang tujuan yang ditetapkan baik tujuan umum dan tujuan khusus dalam suatu organisasi atau lembaga penyelenggara pendidikan nonformal. Setelah tujuan ditetapkan perencanaan berkaitan dengan penyusunan pola, rangkaian, dan proses kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapat tujuan tersebut.
2. Pengorganisasian
Merupakan upaya melibatkan semua sumber manusia dan non manusia kedalam kegiatan yang terpadu untuk menciptakan tujuan lembaga atau organisasi penyelenggara pendidikan nonormal.
3. Penggerakan Fungsi penggerakan adalah mewujudkan tingkat penampilan dan partisipasi yang tinggi dari setiap pelaksanaan yang terlibat dalam kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
4. Pembinaan
Upaya untuk memelihara efisiensi dan efektivitas kegiatan sesuai dengan yang telah direncanakan dalam upaya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
5. Penilaian
Penilaian berperan untuk menghimpun, mengolah, dan menyajikan informasi untuk pengambilan keputusan yang menyangkut upaya justifikasi, perbaikan, penyesuaian, pelaksanaan, dan pengembangan pendidikan non formal
6. Pengembangan
Pelaksanaan kembali program pendidikan non formal melalui fungsi-fungsi manajemen dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pembinaan, penilaian, dan pengembangan. Dengan demikian pengembangan berperan untuk menjembatani siklus kegiantan pendidikan non formal dalam mata rantai peningkatan kegiatan secara berkelanjutan.
Manajemen pendidikan luar sekolah terdiri atas fungsi-fungsi yang berurutan dan berdaur, yaitu perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pembinaan, penilaian dan pengembangan. Program pendidikan luar sekolah disusun secara terencana sesuai dengan satuan, jenis, dan lingkup pendidikan luar sekolah.
Langganan:
Postingan (Atom)












